Sudah 5 tahun menahan tumor yang menggerogoti wajahnya. Awalnya, ibu Yanih mimisan normal, namun pendarahan menjadi lebih rutin seiring berjalannya waktu. “Dulu kalau mimisan bisa mandi, banyak darahnya,” kata Fahrul, anak pertama Yanih.
Keluarga tersebut kaget dan membawa ibu Yanih untuk berobat. Namun, karena kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari, wajah ibu Yanih mulai membengkak dan membesar. Sampai saat ini, ibu Yanih hanya bisa bernapas melalui mulut, matanya buta dan sering mimisan. Suaminya bahkan menjual rumahnya untuk membayar biaya pengobatan ibu Yanih.

Hingga saat ini, ibu dari 4 anak ini hanya bisa berjuang di atas tempat tidur dengan ukuran badan yang semakin mengecil dan tumor di wajahnya semakin membesar. “Saya sangat ingin berobat, tapi belum ada uang,” kata Pak Marzuki, suami Yanih. Pak Marzuki sendiri bekerja serabutan dengan apa yang dia mampu untuk menghidupi ibu Yanih dan 3 anaknya yang masih bersekolah.

Fahrul kini merasakan beban yang sama, anak pertama dari Ibu Yanih & Pak Marzuki yang bekerja sebagai satpam dengan gaji yang minim. Pernah masuk rumah sakit & menggunakan BPJS, pernah dioperasi, pernah dirobek & dibersihkan bagian dalamnya. Seminggu kemudian daging yang tumbuh semakin tebal.
