Tubuh Mungilnya Kaku Terbalut Kain, Selama 22 Tahun Trendi Kelainan Tulang Dan Gegar Otak.

Pagi itu gerimis membungkus sepetak rumah sederhana di sebuah desa kecil. Jutaan larik bilur air turun satu per satu, melekat di antara pohon dan dedaunan. Payung warna-warni pergi silih berganti melintas di depan rumah. Langkah kecil dan celoteh seorang balita terdengar samar-samar. 

“Jeni, tolong jaga adikmu. Ibu sedang masak air untuk buatkan susu. Genteng di depan itu bocor, lantainya belum ibu bersihkan. Takutnya Trendi jatuh terpeleset.” ucap Bu Siti. 

Saat itu, Trendi baru berusia 1,5 tahun. Ia suka berlari dan merangkak penuh semangat bermain kejar-kejaran dengan kakaknya, Jeni. Ibu yang baru saja selesai membuatkan susu, memintanya untuk duduk sembari mengambil makan.

Tak disangka, dalam hitungan menit Trendi hilang dari pandangan Bu Siti. Ia berlari dengan kencang sambil memegang botol susu di tangannya dan terpeleset. Tubuh mungilnya jatuh terlentang membentur lantai ubin begitu keras. 

Tubuh mungilnya kejang. Dari kepalanya keluar banyak darah dan menggenang bercampur air.

Bu Siti teriak histeris, piring di tangannya lepas menyentuh lantai. Ia berlari sambil menangis, mendekap anaknya yang berlumuran darah. Sekuat tenaga ia gendong tubuh mungil Trendi, berlari mencari pertolongan. Saat itu ayah Trendi sudah pergi bekerja, hanya tinggal ia dan anak sulungnya. 

Di depan ruang dokter, Bu Siti tak kuasa menahan tangis, tubuhnya gemetar, keringat bercucuran, suhu badannya dingin, teringat kondisi anaknya yang tak sadarkan diri. Ia hanya bisa doa, berharap Tuhan selamatkan nyawa sang buah hati. 

Saat seorang perawat keluar, ia mengatakan bahwa Trendi mengalami gegar otak dan kelainan tulang belakang akibat benturan yang keras. Setelah diperiksa, Trendi mengalami Skoliosis Thoracalis (kelainan pada tulang punggung bagian atas) yang cukup kronis. 

Isak tangis dan jeritan Bu Situ tak terbentung, memenuhi lorong rumah sakit hingga ruang tunggu. Suasana berubah drastis!

Peristiwa pilu itu terjadi 22 tahun lalu, sebelum ayah Trendi meninggal dunia 7 tahun silam. Selama puluhan tahun, Bu Siti korbankan seluruh harta benda yang ia miliki demi pengobatan anaknya. Namun, satu-satunya pilihan untuk kesembuhan Trendi hanya operasi tulang belakang. 

Biaya yang dibutuhkan untuk 1 kali operasi mencapai puluhan juta rupiah, belum termasuk obat, biaya transportasi, dan perawatan intensif lainnya. Dengan penghasilannya yang tak menentu dan tanpa sosok suami disisinya, hal itu sulit diwujudkan oleh Bu Siti. 

Hingga menginjak usia 23 tahun, tak ada yang berubah dari Trendi. Kondisinya semakin memburuk, tulang tangan dan kakinya juga bengkok, hari demi hari dilalui penuh rasa sakit. Tak bisa berlari seperti dulu lagi, hanya terkulai lemas diatas tempat tidurnya. 

Perilakunya tidak jauh berbeda dengan anak berusia 5 tahun, tak bisa berbicara dengan lancar. Saat penyakitnya kambuh ia akan menjerit, meringis kesakitan, dan kejang-kejang.

Sedihnya, di tengah rasa sakit itu ibu tak mampu berikan pengobatan dan makanan bergizi. Setiap tak ada biaya Trendi hanya makan bubur atau nasi putih dengan kecap. 

Semenjak ibu sakit-sakitan, kakaknya lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan dengan upah 1 juta per bulan. Setengahnya ia berikan kepada ibu untuk membayar sewa tempat tinggalnya dan untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan tenaga tua ibu yang berjualan jajan keliling. 

“Setiap hari saya berdoa sama Tuhan, semoga diberi umur yang panjang biar bisa jaga Trendi. Tubuhnya tidak berdaya seperti ini, kalau saya pergi seperti alm. Ayahnya, nanti bagaimana nasib anakku. Meski ada kakaknya, hanya saya yang sabar merawat Trendi…” ucap Bu Siti dengan mata berkaca-kaca.

LihatTutupKomentar